Kisah Inspiratif
6

Cinta Berwarna Mocha, Kisah Mochafrio d’Catz

Cinta Berwarna Mocha, Kisah Mochafrio d’Catz

Hai, kawan…  Aku punya sebuah cerita. Cerita yang sederhana saja, namun bagiku cerita ini telah mengubah dunia. Duniaku dan dunia keluargaku. Apa kau mau menyimak?

Aku ditemukan Mamie di suatu jalan besar yang ramai lalu lalang kendaraan, di Surabaya. Sendiri tanpa induk.  Aku menangis sampai hampir tak kedengaran suaraku. Suaraku hampir habis. Aku tak terlalu ingat berapa lama menangis, mungkin sudah berhari-hari.

Tergerak karena kasihan, seorang wanita -yang kemudian aku panggil Mamie- mengambilku dan memangkuku. Aku kotor dan gemetaran, kulitku lengket karena dehidrasi. Kata Mamie, hari itu tanggal 19 Maret 2013, di suatu sore yang disertai hujan rintik-rintik…

Mocha saat kitten.

Mocha saat kitten.

Mamie menatap Papie mohon ijin untuk mengambilku. Papie mengangguk tanda setuju. Secepat mungkin Mamie membawaku pulang ke rumah. Aku tak menangis lagi. Mamie membungkusku dengan jaketnya. Aku merasan aman. Aku tahu saat itu malaikat penyelamat telah menemukanku.

Sampai dirumah, Mamie memberiku minum. Celaka! setelah minum aku malah muntah. Cairan kental kehitaman… Apa-apaan ini?

Karena panik Mamie dan Papie melarikanku ke Vet. Untunglah, seorang dokter hewan kenalan Mamie segera memeriksaku. Aku yang masih segenggam tangan besarnya…  Dokter bilang saat itu usiaku kira-kira baru 2 mingguan. Aku lemah, malnutrisi dan dehirasi. Dan… perutku keras sekali. Ouch!

Dokter berusaha menguras isi perutku. Ternyata ada banyak endapan lumpur dan rumput di dalam perutku! Lumpur dan rumput kawan! Aku tak ingat kapan makan rumput dan pasir ini. Mungkin saat aku lapar dan tak tahu harus makan apa. Apa yang dipikirkan oleh orang yang telah membuangku itu? Apa dia tak tahu aku belum bisa mencari makan sendiri? Itu sama saja dia membunuhku pelan-pelan. Oh, Tuhan…

Saat itu aku juga diare. Mamie menangis terus, karena tak tega melihatku. Tapi syukurlah, setelah diberi obat dan susu khusus aku berhenti muntah, demam dan diareku pun reda pada akhirnya. Dokter menyuruh Mamie untuk meninggalkan aku di Vet semalam. Agar dapat mengontrol keadaanku dengan lebih baik. Aku menangis saat Mamie memasukkanku dalam kandang Vet yang hangat.  Aku tak ingin ditinggal sendiri lagi. Tapi dokter yang baik hati mengatakan aku akan baik-baik saja.

Jam 1 malam Mamie meninggalkan aku setelah belajar cara memberiku minum susu memakai dot dengan baik. Sampai rumah Mamie tak bisa tidur sama sekali. Katanya malam itu terasa menjadi lebih panjang. Lamaaa sekali menunggu pagi datang menjelang.

Mocha

Mocha

Klinik Vet baru buka pukul 8. Tapi Mamie sudah datang pukul 6 pagi! Hahaha… Aku tak tahu pasti hatinya terbuat dari apa, tapi sejak saat itu aku menganggap hatinya terbuat dari secuil cahaya Tuhan.

Keadaanku berangsur baik.  Demamku turun. Aku sudah bisa pup walau setengah mati keluarnya, karena sangat keras! Anusku sampai berdarah dan radang. Sungguh, kuharap tak ada lagi anak kucing lain yang mengalami penderitaan sepertiku.

Dokter yang baik hati membersihkanku dengan seksama. Mamie tak sabar membawaku pulang. Aku dibawa pulang dalam kotak kardus bekas mie.  Karena Mamie belum sempat membelikan kandang. Tak masalah bagiku. Aku selalu menyukai kardus.

Setelah Vet menyatakan keadaanku memungkinkan untuk dibawa pulang, maka aku kembali ke rumah. Di rumah aku dirawat sendiri oleh Mamie. Papie dan Cici juga kadang membantu. 2 jam sekali aku harus minum susu pengganti air susu induk kucing. Mamie berusaha keliling mencari induk kucing yang menyusui… tapi tidak menemukannya. Jadilah Mamie indukku sendiri… hehe.

Hari ketiga aku demam lagi. Aku kembali ke Vet. Pencernaanku bermasalah. Susunya harus diganti. Maka ditambahkanlah air larutan madu sesendok teh tiap hari. Akhirnya aku bisa melalui saat kritis itu bersama keluarga baru yang ternyata sangat menyayangiku.

Kemudian saat sudah mencapai usia yang cukup, aku disteril. Kata Mamie biar aku lebih sehat dan betah di rumah. Tak harus gelisah dan membuat kegaduhan tiap kali musim kawin tiba. Aku sih oke-oke saja. Aku sudah merasa aman dan nyaman di rumah Mamie.

Puji Tuhan sekarang  aku tumbuh sehat. Sebagai anak bungsu keluarga kecil Mamie. Orang bilang aku tampan, banyak juga kucing betina yang terpikat padaku.  Ehem, terimakasih aku tersanjung! Mereka tak tahu dulu aku kotor dan diabaikan, nyaris mati di pinggir jalan…

Mocha tampan? Terima kasih ^,^

Mocha tampan? Terima kasih ^,^

Badai sudah berlalu. Sekarang, aku ingin memberitahumu kawan… duniaku benar-benar sudah berubah. Setiap pagi Papie selalu mengajakku bermain sepak bola kertas. Aku bebas lari kesana kemari menjadi kipper. Oh baiklah, aku memang anak lelakinya yang paling ganteng. Hehe.. Kadang aku juga jalan-jalan pagi bersama Papie dan Mamie agar sehat.

Oiya, aku biasanya bangun pagi pukul 4. Aku membangunkan Mamie untuk membukakan pintu kamar, karena aku terbiasa melakukan ‘panggilan perut meow’ di kamar mandi jam segitu. Aku bisa hidup tanpa pasir. Hebat kan? Hehe.

Aku hidup full indoor. Makanya sering memporak-porandakan barang-barang  Mamie kalau sedang merasa bosan. Maaf ya, Mamie. Sebenarnya aku cuma ingin bermain. Oiya, aku terbiasa ‘cuci paw’ setelah dari manapun, jadi aku boleh tidur bersama Mamie, Papie dan .. Cici. Walau itu artinya Mamie harus jaga betul kebersihan rumah dari bulu dan debu karena Cici punya alergi.

Tapi anehnya semenjak aku bobo sama Cici, alerginya malah tak pernah kambuh lagi… aneh kan? Apa bulu-buluku mengandung serbuk obat ajaib? Mungkin. Hihi.

www.facebook.com/mochafriolucu.  Hati-hati, kaki! hehe

www.facebook.com/mochafriolucu.
Hati-hati, kaki! hehe

Kuakui, aku kadang juga nakal. Bila telat memberi makan aku akan tangkap semua kaki yang lewat dan gigit siapapun. Gigit manja tapi… bukan bener-bener gigit melukai. Sekedar menyampaikan pesan, “Hei aku lapar tau!”

Oh iya kegiatan yang paling kusukai adalah disisir Mamie. Asyik saja rasanya. Tapi yang paling kubenci adalah mandi karena bau badanku akan berubah menjadi aneh. Aku akan guling-guling setelahnya yang membuat mamie gemes!  Tapi Mamie bilang aku harus selalu bersih. Supaya tidak sakit. Itu peraturan dari Mamie. Oke, Mamie.

Aku makan rawfood, kibles, wetfood. Aku tak suka kepala ayam. Entah… rasanya aneh bagiku. Aku juga suka yogurt, es jeruk, es teh dan durian. Pepaya, jagung manis dan melon juga. Jangan kaget, aku memang doyan durian. Hehe. Tapi sedikit saja, tak boleh banyak-banyak.

Baiklah kawan, sebelum aku akhiri ceritaku, aku akan memperkenalkan diri. Kenalkan, namaku Mochafrio! Mamie menamaiku Mocha agar selalu ingat kenangan terindahnya bersama Papie… saat di suatu hari Mamie ditanya, maukah menikah dengannya? Malam spesial bersama rintik hujan ditemani dua cangkir mocha latte…

Saat aku ditemukan kondisinya  juga sama, dalam rintik hujan. Apalagi buluku mirip dengan minuman itu. Mamie ingin aku selalu mengisi hari-hari bersama keluarga tercintanya. Tipe pasangan romatis bukan?  Aku bersyukur berada di tengah mereka dan berjanji akan menyayangi dan menjaga mereka sepanjang usiaku.

Ini ceritaku, bagaimana ceritamu? Selamat berhari minggu! Love, Mocha.

Comments

comments

Bagikan:
  • googleplus
  • linkedin
  • tumblr
  • rss
  • pinterest
  • mail

Ditulis oleh Oslo Van Hotten

Ada 6 komentar

  • mbahrokhim says:

    nice story..

  • Meongers says:

    Hello Moccha bandeel… seneng deh lihat kamu jadi bersih dan gempal embleb-embleb begitu 😉
    dirumah aku saat ini juga punya Kitten yang sudah diresque dari jalanan sejak 2 minggu yang lalu. kondisinya mirip seperti kisahmu ditambah pupsnya mencret kemana-mana ( jadi sebel bersihinnya )

    mungkin dulunya dia makan rumput sama lumpur buat survive, sekarang sudah agak mendingan ( baru dikasih obat cacing ) doakan agar cepat endud kayak kamu ya…

    Salam

  • Meongers says:

    Muaaach… ( lupa )

  • rakhmawaty says:

    siang-siang baca sepenggal kisah mocha bikin terharu.

  • Tinggalkan komentar

    Bagaimana menurut kamu?
    Tinggalkan balasan ya, furriends ;)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *