Kisah Inspiratif
1

Oscar, Sang Pemburu Vampire

Oscar, Sang Pemburu Vampire

Hoop! Aku meloncat ke pohon mangga di belakang rumah. Batang dan ranting-rantingnya cukup besar sehingga aku bisa leluasa memanjat, terus dan terus ke atas. Rasanya menyenangkan sekali. Setelah diujung dahan yang paling tinggi aku berhenti. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling.

Halaman belakang rumah baruku lumayan luas. Tapi aku sudah bosan hanya berkeliling di halaman belakang itu. Kurang menarik. Hanya ada belalang, kadal, tokek, kupu-kupu dan capung yang bisa aku buru. Kemarin ada luwak masuk bersama anak-anaknya. Tapi kami dilarang memburu mereka. Aku butuh tantangan baru!

Kutatap halaman belakang rumah tetangga. Sangat rimbun dan luas. Dua rumah kosong ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Area itu sudah mirip hutan belantara. Aku tak becanda. Banyak sekali pohon besar dan rumpun yang rimbun. Pasti mengasyikkan sekali kalau aku masuk kesana. Maka pelan-pelan aku berjalan masuk ke area terlarang itu lewat tembok pembatas yang tinggi.

Semangatku membuncah! Sekarang aku benar-benar siap menjadi kucing petualang. Aku berada di tengah-tengah wilayah asing yang menakutkan sekaligus menarik. Setelah melewati  tembok pembatas  aku masuk ke rumah asing itu. Kucium setiap sudut rumah kosong itu dengan penuh kewaspadaan. Rumah itu sebenarnya tak layak lagi disebut rumah. Kusen dan jendela sudah lepas, genteng sebagian jatuh, tembok sudah miring. Gelap dan lembab.

Aneka jenis tumbuhan -yang aku tak tahu namanya- tumbuh liar. Ada yang batangnya tinggi sekali, berdaun besar, dan bergoyang malas  tiap kali angin berhembus.  Ada juga jenis umbi-umbian tumbuh tak teratur. Yang lain menyulur tak jelas. Semoga aku tak salah membedakan mana yang batang tanaman dan mana yang ular. Katanya ular mirip batang tanaman menyulur. Aku sudah tahu cerita tentang ular ini, tapi tak pernah melihat wujudnya.

Telingaku tiba-tiba menangkap udara yang mengalir dengan cepat dan bergerak ke arahku. Apa ini? Aku mengumpulkan keberanianku sampai level maksimal. Sudah terlanjur masuk, aku tak boleh mengeong menangis ketakutan.

Dalam sekelebatan muncul dari dalam kegelapan sesosok bayangan hitam besar terbang ke arahku. Makhluk apa ini? Ukurannya puluhan kali lipat dari kupu-kupu yang pernah aku tangkap! Mataku melotot, aku tak yakin dengan apa yang aku hadapi ini. Aku melihat sesosok makhluk hitam.  Mukanya sangat mengerikan! Dan dia punya sepayang sayap yang sangat lebar. Lebih lebar daripada badanku.

Sayapnya terentang, lancip di setiap ujungnya yang bergelombang. Dia punya taring, kukunya juga tajam siap mencengkerang. Dan..  matanya merah menyala menatapku! Apa ini yang disebut hantu? Dalam sepersekian detik sebelum dia berhasil menyentuhku aku reflek berlari menghindar. Jantungku berdetak kencang. Aku bersembunyi di balik daun pintu yang rusak karena lepas engsel atasnya.

Foto : www.gambarbinatang.com

Foto : www.gambarbinatang.com

Sepanjang sore aku hanya berdiam diri bersembunyi. Aku tak membayangkan akan begini jadinya. Aku mulai lapar dan haus, tapi tak berani keluar dari tempat persembunyianku. Aku tahu hantu hitam itu masih mengawasiku. Dan dia tak sendiri. Sepintas sambil lari tadi aku melihat puluhan pasang mata merah lainnya mengawasiku. Benar-benar bencana buatku.

Terang sudah berganti gelap. Aku dengar sayup-sayup dari dalam rumahku suara piring-piring makanan mulai ditata. Ini saatnya makan malam. Aku tahu ibu akan mencariku saat tahu anaknya ada yang hilang. Tapi aku tak yakin dia berani memasuki rumah hantu ini. Aku pun tak ingin ibu celaka saat masuk ke rumah ini. Ibu tidak tahu disini ada puluhan pasukan vampir, mungkin juga ular besar di semak-semak atau disudut yang paling tersembunyi. Ah, aku memang mencari celakaku sendiri.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar ibu memanggil namaku.

“Oscaarr.. Oscaarrr…!”. Oscar itu namaku, nama yang keren bukan? Hehe.

Aku ingin menyahut, tapi posisiku masih terancam. Jika aku bersuara para vampire itu akan memburuku. Saat ini mereka sudah beterbangan di langit-langit rumah. Jumlah mereka lebih banyak dari yang aku duga! Perutku makin keroncongan. Kerongkonganku terasa kering. Aku haus.

Saat aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan, tiba-tiba keajaiban terjadi di depan mataku. Seekor kucing besar berwarna abu-abu entah dari mana datangnya tiba-tiba memasuki rumah hantu itu dengan penuh percaya diri. Langkahnya mengendap-endap tenang. Dia seperti sedang mengincar seekor buruan. Sama sekali tidak ketakutan meskipun diatas kepalanya berputar-putar para makluk menyeramkan bermata merah.

Kucing abu-abu itu nampak sudah siap menghadapi serangan musuhnya. Ekornya berkibas perlahan. Telinganya tegak berdiri dan kumisnya mengembang kedepan. Sikap sempurna seekor kucing pejuang! Para vampire terdengar mulai mencuit tak jelas. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin semacam kode untuk segera menyerang musuhnya yang lemah, cuma satu ekor dan tak bisa terbang.

Para vampire mulai terbang lebih rendah. Beberapa terlihat cukup berani sampai sayapnya menyentuh tanah. Hei, sepertinya mereka sedang mengejek kucing abu-abu itu. Dan hebatnya kucing itu nampak tetap santai tak menggubris hinaan musuhnya. Aku penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seekor vampire gemuk  terbang begitu dekat diatas kepala kucing abu-abu. Dalam sekejap mata kucing itu melompat, cakar tajamnya langsung menyabet tubuh musuhnya. Vampir gemuk terkejut dan jatuh. Dalam gerak yang super cepat pula tiba-tiba badannya sudah ada dalam gigitan mulut kucing abu-abu. Maka tampaklah pemandangan spektakuler itu. Muka mengerikan di depan mulut seekor  kucing dengan dua sayap lebar terentang mengepak-epak panik. Luar biasa. Baru kali ini aku melihat seekor kucing garong sakti tak tertandingi!

Keterkejutanku belum habis. Kucing abu-abu sepertinya sudah menusuk tubuh vampire dengan taringnya dengan teramat dalam. Ketika vampire itu dilepaskan dari mulutnya, dia tak bisa lagi terbang. Cuma sayapnya yang bergerak liar, tapi makin lama makin lemah. Sesekali kucing itu memukulnya dengan paw berkekuatan penuh. Setelah beberapa saat akhirnya vampire itu terdiam. Dia kehabisan tenaga.

Yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak. Vampir malang itu menjadi makan malam yang lezat bagi si kucing jagoan. Setelah kenyang makan -tak menyisakan bekas sedikitpun- kucing itu dengan tenang membersihkan tangan dan mulutnya.

Tak berpikir lama aku memberanikan diri keluar dari persembunyianku dan menyapanya.

“Meoongg… Halloo…’’, kataku.

Dia sepintas melirik ke arahku. Tidak terkejut sama sekali.

“Sudah lihat apa yang aku lakukan?”, tanyanya.

“Ya, tentu saja. Anda hebat sekali!” jawabku.

“Begitulah seharusnya seekor kucing bertindak, bukan ketakutan sepanjang hari dan bersembunyi.” Lanjutnya.

“Anda tahu saya sembunyi sepanjang hari disini?” tanyaku terkejut.

“Tentu saja. Ini daerahku. Aku tahu siapa saja yang masuk kesini tanpa ijin dariku.”

“Oh.. maafkan, aku cuma penasaran dan aku baru pindah kesini. Namaku Oscar, Anda siapa?”

“Aku tak punya nama. Aku kucing liar. Tak ada yang memberiku nama.” Jawabannya membuat aku semakin takjub.

“Maukah Anda saya panggil Master? Ajari saya menangkap vampire itu.” Kataku dengan pintarnya.

“Itu bukan vampire. Itu cuma kelelawar raksasa. Boleh saja. Apa imbalan yang pantas untukku?” Kucing dimanapun senang bernegosiasi.

“Master boleh main ke rumahku kapan saja, ada banyak makanan enak disana”.

“Baiklah. Sebenarnya aku lebih suka makanan hasil buruanku sendiri. Tapi kalau aku sedang malas berburu, aku akan ke rumahmu dan tolong sediakan makanan untukku.”

“Deal.” Kataku cepat.

“Oke.” Master menyahut.

Maka malam itu, aku langsung diangkat menjadi muridnya. Aku diajari teknik-teknik berburu yang paling canggih. Dan malam itu pula pertama kalinya aku mencicipi rasanya daging kelelawar. Awalnya aku ingin muntah. Tapi Master mengejekku sebagai kucing rumahan yang lembek. Aku tak terima. Maka kutelan cepat-cepat vampire malang itu.

Paginya, sebelum pulang ke rumah aku punya ide cemerlang. Aku tahu ibu semalaman cemas mencariku. Aku ingin memberinya hadiah istimewa. Maka kuputuskan menangkap seekor vampire paling gemuk untuknya.

Pagi hari, aku tak bisa teriak saat masuk rumah. Mulutku penuh badan vampire. Sayapnya masih mengepak-epak, terentang melebar hampir dua kali lipat dari panjang ekorku sendiri. Dengan cepat saudara-saudaraku mengerubungiku. Tatap kagum dan terkejut dari mereka semua.

Aku menuju ke dapur. Aku tahu ibu disana. Ibu terkejut setengah mati saat melihatku. Aku tak yakin dengan ekspresinya, antara takut dan ngeri! Aku tahu seumur-umur baru kali ini ibu melihat kelelawar raksasa yang sesungguhnya. Dia cuma tahu kelelawar dari film Batman. Iya, ibu. Ini aku bawakan Batman untukmu!

Maka sejak saat itu namaku bertambah jadi Oscar De La Oye. Kata Bapak aku mirip Oscar De La Hoya, seorang petinju. Duh. Aku bukan petinju tapi seekor pemburu vampire. Tapi tidak mengapa, gelar baru itu cukup oke bagiku. Semua kucing di rumah hormat padaku.

Oiya, Master jadi sering main ke rumah. Tak cuma minta makan. Nampaknya dia jatuh cinta pada Mochi, tanteku yang paling bungsu. Umur Mochi tak beda jauh dariku, belum 2 tahun.  Ibu pernah menangkap Master, katanya mau disteril. Tapi Master terlalu pintar untuk sebuah kandang besi. Entah bagaimana caranya dia bisa meloloskan diri saat ditinggal sebentar. Master memang hebat!

Itu ceritaku teman-teman. Terimakasih sudah menyimak. Kapan-kapan aku cerita lagi bagaimana caranya menangkap ular! Tentu saja bersama Master. Meow, Oscar De La Oye.

 

Foto : Oscar dan Olwen saat masih bayi.

Foto : Oscar dan Olwen saat masih bayi

Foto : Oscar dan Papoy

Foto : Oscar dan Papoy

Comments

comments

Bagikan:
  • googleplus
  • linkedin
  • tumblr
  • rss
  • pinterest
  • mail

Ditulis oleh Cici Mochi

Ada 1 komentar

  • rian says:

    Ceritamu kerenn, Oscar Oye,, 😀 btw, jd penasaran dg rasanya vampire itu,, soalnya kalo ga salah ada daerah yg menyediakan itu dg cara dibakar,, hehe

  • Tinggalkan komentar

    Bagaimana menurut kamu?
    Tinggalkan balasan ya, furriends ;)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *