Fakta Kucing
0

Felis Bengalensis, Si Raja Hutan Kecil

Felis Bengalensis, Si Raja Hutan Kecil

Kucing Hutan dan Ego Manusia

Kucing hutan (Felis Bengalensis, atau Prionailurus Bengalensis) memang spesies cantik dan langka. Siapa yang tidak terpesona dengan muka lucunya serta bulu totol-totolnya yang mirip macan tutul?

Kucing hutan masuk kedalam kategori satwa dilindungi karena habitatnya sudah mulai punah, disamping karena banyak manusia yang memperdagangkanya secara illegal.

“Kucing hutan memang tinggal dekat manusia. Masalahnya adalah rasa ego manusia yang ingin memeliharanya. Kalau cuma lempar makanan sih gak apa. Tetapi kalau sampai dipelihara dan diperjual belikan, bagaimana mereka bisa berkembang biak? Itu yang jadi masalah.” Demikian ungkap, Mamih Agil dari Planet Satwa menyikapi maraknya perdagangan kucing hutan ini.

Memelihara kucing hutan memang tidak mudah. Kucing hutan memiliki karakter yang sangat berbeda dengan kucing domestik lain. Merawatnya harus ekstra sabar dan hati-hati. Sebabnya adalah hampir semua kucing hutan galak, suka menggigit, dan gampang stress.

Jika ada  kucing hutan yang jinak itu karena dipelihara sejak masih kecil sekali. Rata-rata kucing hutan mulai dijual saat baru berusia 2 minggu sampai 1 bulan. Tapi bayi kucing tersebut masih sangat rentan, daya tahan tubuh belum kuat karena memang seharusnya masih menyusu induknya.

Prionailurus Bengalensis. Foto : www.pbase.com

Prionailurus Bengalensis. Foto : www.pbase.com

Kucing Hutan dan Rantai Makanan

Makanan kucing hutan juga berbeda dengan kucing rumahan. Makanan utamanya adalah daging, maka dalam banyak kasus bayi kucing hutan akhirnya mati karena makan cat food. Jadi harap diingat, cat food tidak cocok untuk kucing hutan.

Apakah berarti tidak ada yang bisa merawat kucing hutan? Tentu ada, tapi mereka mungkin bisa dihitung dengan jari. Selebihnya sebagian besar anak kucing hutan itu mati! Penyebabnya karena sakit atau stress akibat keterlambatan penanganan dan ketidakmengertian ownernya.

Wajib untuk diketahui bersama bahwa kucing hutan liar berada di posisi puncak rantai makanan. Bila kucing ini punah karena ditangkap dan dijadikan hewan rumahan, maka tak ada lagi predator untuk mangsa dibawahnya, seperti tikus, kadal, ular kecil, dan lain sebagainya.

Akibatnya siklus rantai makanan terganggu dan ekosistem kacau. Dalam jangka panjangnya para hewan kecil menjadi berlebihan populasinya hingga bisa mengganggu perkembangan rantai makanan.

Hama tumbuhan yang berkembang tak terkendali bisa mengakibatkan tumbuhan-tumbuhan penting rusak, ekosistem secara luas terganggu dan pada akhirnya manusia juga yang menderita.

Semoga manusia bisa bijak memperlakukan si raja hutan kecil ini. Mereka bisa hidup mandiri, tak butuh terlalu banyak campur tangan manusia. Tapi manusia membutuhkannya untuk tetap lestari di habitat dan hutan yang dijaganya.

 

Foto : Milan Korinek. www.imgbuddy.com

Comments

comments

Bagikan:
  • googleplus
  • linkedin
  • tumblr
  • rss
  • pinterest
  • mail

Ditulis oleh Oslo Van Hotten

Ada 0 komentar

Tinggalkan komentar

Bagaimana menurut kamu?
Tinggalkan balasan ya, furriends ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *