Berita
5

Ingin Membantu Konservasi Kucing Hutan? Begini Caranya…

Ingin Membantu Konservasi Kucing Hutan? Begini Caranya…

Kebakaran hutan yang terjadi pada musim kemarau kali ini terjadi sekaligus di beberapa daerah. Bukan hanya manusia saja yang menderita karena sehari-hari harus menghirup asap beracun, namun juga para satwa yang ‘rumahnya’ terbakar.

Hutan yang terbakar membuat para satwa lari dan mencari tempat perlindungan. Beruntunglah mereka yang sampai ke hutan baru yang masih tersisa. Selebihnya lari ke lahan pemukiman penduduk atau terpaksa tidak bisa survive.

Kucing hutan termasuk satwa langka yang saat ini banyak beredar di masyarakat. Kucing-kucing ini berasal dari habitatnya di alam yang sudah rusak, atau dari para pemburu yang sengaja menangkapnya.

Dengan dalih melestarikan, banyak yang kemudian mendapatkan kucing hutan ini. Memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Namun, tahukah jika ada prosedur yang bisa ditempuh secara legal dan pemerintah juga sebenarnya sudah menfasilisasinya?

“Sebenarnya masyarakat bisa merawatnya sesuai dengan prosedur BKSDA/KSDA setempat. Namun tidak boleh diperjual belikan lagi meski pun itu hasil breeding sendiri. Nantinya akan ada sertifikat dari BKSDA/KSDA. Misalnya F1, F2, F3 dan seterusnya. Nah urusan breeding selanjutnya di tangan BKSDA/KSDA untuk mencegah inbreeding.” Demikian penjelasan Mamih Agil, pendiri Planet Satwa yang fokus pada edukasi pelestarian aneka satwa, terutama satwa langka.

“Seandainya ada masyarakat yang menemukan atau membeli kucing hutan karena kasihan sebaiknya segera menghubungi BKSDA/KSDA agar nanti teknik penyerahannya mereka yang atur.”

“Untuk wilayah DKI Jakarta bisa menghubungi BKSDA. Untuk diluar DKI Jakarta bisa menghubungi KSDA setempat.” Mamih Agil memberikan penjelasan tambahan.

Prionailurus Bengalensis Javaensis. www.ws1.madgentos.pp.ua

Prionailurus Bengalensis Javaensis. www.ws1.madgentos.pp.ua

Selain karena kucing hutan termasuk ke dalam satwa langka yang dilindungi Undang-Undang, konservasi yang dilakukan oleh masyarakat harus melalui prosedur supaya legal demi kepentingan kucing hutan itu sendiri. Kemudian didukung dengan pengetahuan untuk merawatnya.

“Jika masyarakat ingin memelihara harus dengan izin negara (BKSDA/KSDA) agar mereka melakukan pengawasan. Sebab bukan hanya kandang atau berkembang biak tetapi mereka tetap harus ada tempat untuk berburu. Jangan sampai ayam tetangga jadi korban…”. Papar Mamih Agil.

“Dan ukuran kucing hutan itu kan lebih besar dari kucing rumahan. Kaki tinggi langsing yang berfungsi untuk lari cepat. Kebayang gak sih kalau mereka cuma leha-leha di kandang sempit?”

Apakah pembaca MeowMagz yang baik punya kucing hutan di rumah? Yuk, bantu pemerintah melakukan konservasi dengan cara yang benar.

 

Foto : Gallery-Visayan-leopard-cat-kitten-Jeremy-Holden.jpg

Comments

comments

Bagikan:
  • googleplus
  • linkedin
  • tumblr
  • rss
  • pinterest
  • mail

Ditulis oleh Oslo Van Hotten

Ada 5 komentar

  • Agheelz says:

    Meski pun saat kecil lucu menggemaskan namun setelah dewasa cukup mengerikan lho…

  • Mas Hendra says:

    Sepertinya si penulis harus perlu belajar dan lebih teliti lagi. Sejak kapan wujud kucing hutan jawa (Prionailurus bengalensis javaensis) berubah menjadi kucing bengal? Krn disitu yg ditampangkan foto kucing bengal bukannya kucing hutan jawa. Dan felis disamakan dengan prionailurus, hello… keduanya ini beda ya!

    • Oslo Van Hotten says:

      Memang saya masih belajar, ongkel. Terima kasih masukannya 😀
      Setahu saya dulu kucing hutan dimasukkan dalam genus Felis, bahkan dalam PP No.7 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, kucing hutan masih ditulis dengan nama Ilmiah Felis Bengalensis.
      Namun berdasarkan analisis morfologi, Groves (1997) menyarankan untuk membaginya kembali dalam beberapa spesies berbeda sesuai dengan asal daerah kucing hutan tersebut. Contohnya Prionailurus bengalensis alleni (China), Prionailurus bengalensis borneoensis (Borneo),Prionailurus bengalensis horsfieldi (Himalaya), Prionailurus bengalensis javanensis (Jawa, Indonesia), Prionailurus bengalensis rabori (Filipina), dan lain-lain.
      Karena tulisan kali ini mengacu pada UU dan PP, maka saya masih menuliskannya Felis. Demikian.
      Note : Menurut Mamih Agil penamaan latin memang ribet…
      Contohnya Trimeresurus waglerii. Eeeh ternyata beda dengan waglerii sepupunya disana. Okay, ganti jadi Trimeresurus albolabris. Eeeeh… ternyata tidak “tri”. Okay, ganti jadi Cryptelytrops albolabris. Udah nih? Ga ah, susah nyebutnya. Udah balik lagi aja ke Trimeresurus albolabris…

  • prastio says:

    apakah bisa saya mengurus legalitas kucing hutan saya ?

  • Tinggalkan komentar

    Bagaimana menurut kamu?
    Tinggalkan balasan ya, furriends ;)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *